Skip to main content

Menghemat Seperti Cerita Burung Emprit

Pagi ini, Cia ingin main di luar. Tetapi karena hujan dia main di dalam rumah saja. Saat bermain tiba-tiba dia berkata.

"Bunda, aku pengen mainan baru".

Sebelum saya menjawab dia sudah lebih dulu menimpali.

"Tapi harus nabung dulu, ya, Bun. Biar nggak kaya burung emprit. Burung emprit sekarang sudah mau berhemat. Aku kalau tabunganku udah banyak baru beli mainan."

Saya langsung menyetujui pernyataannya. Rupanya cerita burung emprit ini membekas sekali di benaknya. Ketika menginginkan sesuatu Cia mulai bisa menahan untuk menimbang kebutuhan uang untuk memenuhinya.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga. Menuturkan cerita berhikmah kepada anak, saya berpikir anak saya belum bisa mencernanya. Tetapi gaya bahasa sehari-hari bisa memberikan efek luar biasa pada pembentukan pola pikirnya.

Another priceless story from our girl.

#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunsayIIP
#GrabYourImagination

Comments

Popular posts from this blog

Hari 18, Tantangan 30 Hari

Hasil pelaksanaan hari ke - 18 dan rencana hari ke - 19. Hasil hari ke - 18 Rapor hari ke - 18 Hanya satu pekerjaan yang tidak terlaksana, namun penting dan tidak terlalu berat untuk dikerjakan. Melawan rasa malas memang tantangan yang perlu ditaklukkan. Rencana hari ke - 19

Hari 3, Tantangan 30 Hari

Lanjut hasil hari ke-3 dan rencana hari ke-4 Hasil pelaksanaan hari ke - 3 Catatan: Daftar pekerjaan yang terlalu banyak juga akan menjadi kendala pelaksanaannya. Meski capaian lebih dari hari sebelumnya, ketidaktuntasan pekerjaan membuat mood berubah menjadi tidak terlalu baik. Rencana hari ke - 4 Rencana hari ke - 4

Review 6

Kali ini saya berpasangan dengan Mbak Nurnaningsih dari IP Solo Ray untuk review jurnal. Kami sama-sama menyelesaikan masalah ekonomi. Sempat mengalami miss komunikasi karena saya salah input data regional dan ternyata kurang input nomor ponsel sehingga tidak bisa dihubungi. Mbak Nurna tidak bisa menjangkau saya, dan saya baru bisa menghubungi beliau lepas mengerjakan kongres Ibu Pembaharu. Setelah ngobrol dengan mbak Nurna berikut review saya.