Skip to main content

Pesawat Pribadi

Beberapa hari harus dititip ke rumah budhe karena si adik sakit membuat emak kesepian. Huhuhu. Sepulang dari rumah sakit, pagi-pagi langsung persiapan berangkat menjemput Cia. Cia senang sekali adiknya sudah sembuh dan bisa pulang. Cia segera mengajak main adiknya dengan agak terlalu antusias. Baru setelah diingatkan bahwa adiknya masih perlu istirahat lebih Cia mau bermain dengan kalem.

Kali ini bermain sepeda dan kursi bergantian. Adik mendorong kursi sebagai troli belanja, kakak naik sepeda. Lalu mereka bertukar mainan adik bersepeda kakak menggunakan kursi namun bukan menjadi troli tetapi menjadi pesawat pribadinya. Cia segera persiapan lepas landas dari sedikit berjongkok semakin tinggi hingga berdiri dan berlari.



Segera saja Cia sudah mengunjungi berbagai tempat yang diketahuinya untuk menemui saudara jauh yang dikenal namanya oleh Cia. Memang bahagia itu sederhana bagi anak-anak kadang orang tua terlalu membuatnya menjadi rumit. Membiarkan imajinasi anak-anak bekerja cukup membuat mereka bahagia dengan setulusnya.

#Tantangan10Hari
#Level9
#KuliahBunsayIIP
#ThinkCreative

Comments

Popular posts from this blog

Hari 18, Tantangan 30 Hari

Hasil pelaksanaan hari ke - 18 dan rencana hari ke - 19. Hasil hari ke - 18 Rapor hari ke - 18 Hanya satu pekerjaan yang tidak terlaksana, namun penting dan tidak terlalu berat untuk dikerjakan. Melawan rasa malas memang tantangan yang perlu ditaklukkan. Rencana hari ke - 19

Hari 3, Tantangan 30 Hari

Lanjut hasil hari ke-3 dan rencana hari ke-4 Hasil pelaksanaan hari ke - 3 Catatan: Daftar pekerjaan yang terlalu banyak juga akan menjadi kendala pelaksanaannya. Meski capaian lebih dari hari sebelumnya, ketidaktuntasan pekerjaan membuat mood berubah menjadi tidak terlalu baik. Rencana hari ke - 4 Rencana hari ke - 4

Review 6

Kali ini saya berpasangan dengan Mbak Nurnaningsih dari IP Solo Ray untuk review jurnal. Kami sama-sama menyelesaikan masalah ekonomi. Sempat mengalami miss komunikasi karena saya salah input data regional dan ternyata kurang input nomor ponsel sehingga tidak bisa dihubungi. Mbak Nurna tidak bisa menjangkau saya, dan saya baru bisa menghubungi beliau lepas mengerjakan kongres Ibu Pembaharu. Setelah ngobrol dengan mbak Nurna berikut review saya.