Game level ke-2 kali ini sungguh luar biasa. Saat anak saya memasuki usia 5 tahun dan menolak sekolah di tk, maka latihan kemandirian sangatlah tepat untuk pelajarannya.
Saya memulai dengan makan sendiri karena dia masih sangat bergantung kepada saya mengenai makan. Ketika itu kami masih berada di kampung, berbagai tantangan muncul mulai dari diri saya sendiri yang kurang sabar dan mengharap hasil instan, dari Cia yang masih merengek dan sedang gundah gulana merindukan ayahnya, hingga dari keluarga besar. Tantangan memandirikan Cia dalam hal makan terasa sangat berat. Bahkan perilaku kami berdua pun berubah sangat drastis. Saya menjadi sangat mudah marah, dan Cia menjadi sangat sangat sangat merajuk dan mudah menangis.
Rupanya perubahan tersebut dirasakan oleh ayah saya. Kami berdiskusi mengenai perilaku saya dan Cia. Melalui beliaulah saya tersadarkan untuk selalu memperbaiki diri sendiri, anak hanya ingin dimengerti dan memandirikan bukan berarti melepaskan tanggung jawab. Beliau mengingatkan saya kembali bahwa perilaku anak adalah cerminan perilaku orang tuanya.
Perbincangan ringan namun berat tersebut menyalakan ide dalam benak saya, untuk melatih anak mandiri berarti melatih saya mengendalikan diri ke level selanjutnya dan memunculkan gagasan layang-layang. Dalam melatih kemandirian Cia saya menggunakan teknik tarik ulur seperti menerbangkan layang-layang. Hasilnya begitu terasa nyata. Proses memandirikan Cia untuk hal lain seperti mandi sendiri, cebok sendiri, dan lainnya terasa lebih mudah. Cia lebih kooperatif dan saya merasa lebih mampu bersabar.
Bonus perjalanan menyelesaikan game level ini adalah kemandirian Cia tidur sendiri. Tiba-tiba setelah mengantarkan kerabat yang baru berlibur berasama kami ke stasiun Cia mengungkapkan bahwa kamar di depan adalah kamarnya dan dia akan tidur sendiri.
Awalnya saya hanya berpikir hal tersebut hanya omongan sambil lalu Cia. Namun ternyata dia bersungguh-sungguh. Hari ini peralatan perawatan diri miliknya dipindahakan ke kamarnya setelah mandi pagi (sendiri). Ketika saya meletakkan baju yang baru dijemur di kamarnya, langsung dibereskannya. Ketika saya hendak menidurkan Bee di kamarnya, dia melarang. Kemudian kata-katanya.
"Ini kamarku sekarang, ya, Bun."
"Aku mau tidur sendiri, ya, Bun di kamar depan."
"Aku, kan, udah 5 tahun, ya, tidur sendirilah."
"Aku berani, kok, tidur sendiri."
"Aku, kan, tidur sendiri nggak usah ditemenin."
Dan ketika waktu tidur siang tiba, dia benar-benar menolak ditemani. Hal ini membuat perasaan saya campur aduk. Ada perasaan bangga dan senang bahwa latihan kami membuahkan hasil yang positif. Cia bertumbuh menjadi anak yang sangat cerdas dan mandiri membuat haru perasaan saya.
Tetapi, dibalik itu muncul perasaan aneh. Saya merasa ditinggalkan, merasa sudah tidak dibutuhkan, merasa kehilangan menghantui pikiran saya. Membuat saya ingin tertawa sekaligus menangis. Padahal baru mampu mandiri untuk tidur sendiri begini rasanya, bagaimana nanti ketika dia mampu mengepakkan sayapnya sendiri? Mungkin begini juga yang dirasakan ayah dan ibu (alm) saya. Saya juga masih khawatir Cia akan menangis ketika terbangun di tengah tidur. Dan memang benar terjadi, namun begitu saya datangi dan saya temani sebentar Cia kembali tidur dan tidak keberatan ditinggal.
Ada perasaan takut juga akan kecukupan kasih sayang saya padanya. Sudah cukupkah perhatian dan kasih sayang saya padanya selama ini, sedangkan saya masih sering marah kepadanya. Akan tetapi dukungan dari suami menguatkan saya bahwa ada waktunya memberi perhatian dan mengajarkan kemandirian. Dan mengajarkan kemandirian bukan berarti menghentikan kasih sayang.
Air mata meleleh begitu saja di pipi, anak gadisku bertumbuh semakin besar.
Awalnya saya hanya berpikir hal tersebut hanya omongan sambil lalu Cia. Namun ternyata dia bersungguh-sungguh. Hari ini peralatan perawatan diri miliknya dipindahakan ke kamarnya setelah mandi pagi (sendiri). Ketika saya meletakkan baju yang baru dijemur di kamarnya, langsung dibereskannya. Ketika saya hendak menidurkan Bee di kamarnya, dia melarang. Kemudian kata-katanya.
"Ini kamarku sekarang, ya, Bun."
"Aku mau tidur sendiri, ya, Bun di kamar depan."
"Aku, kan, udah 5 tahun, ya, tidur sendirilah."
"Aku berani, kok, tidur sendiri."
"Aku, kan, tidur sendiri nggak usah ditemenin."
Dan ketika waktu tidur siang tiba, dia benar-benar menolak ditemani. Hal ini membuat perasaan saya campur aduk. Ada perasaan bangga dan senang bahwa latihan kami membuahkan hasil yang positif. Cia bertumbuh menjadi anak yang sangat cerdas dan mandiri membuat haru perasaan saya.
Tetapi, dibalik itu muncul perasaan aneh. Saya merasa ditinggalkan, merasa sudah tidak dibutuhkan, merasa kehilangan menghantui pikiran saya. Membuat saya ingin tertawa sekaligus menangis. Padahal baru mampu mandiri untuk tidur sendiri begini rasanya, bagaimana nanti ketika dia mampu mengepakkan sayapnya sendiri? Mungkin begini juga yang dirasakan ayah dan ibu (alm) saya. Saya juga masih khawatir Cia akan menangis ketika terbangun di tengah tidur. Dan memang benar terjadi, namun begitu saya datangi dan saya temani sebentar Cia kembali tidur dan tidak keberatan ditinggal.
Ada perasaan takut juga akan kecukupan kasih sayang saya padanya. Sudah cukupkah perhatian dan kasih sayang saya padanya selama ini, sedangkan saya masih sering marah kepadanya. Akan tetapi dukungan dari suami menguatkan saya bahwa ada waktunya memberi perhatian dan mengajarkan kemandirian. Dan mengajarkan kemandirian bukan berarti menghentikan kasih sayang.
Air mata meleleh begitu saja di pipi, anak gadisku bertumbuh semakin besar.

Comments
Post a Comment