Skip to main content

Posts

Tantangan Belajar Berkomunikasi

Mempelajari cara berkomunikasi yang baik membuat saya semakin mampu mengenali diri sendiri. Berbagai macam tantangan dalam melaksankan pembelajaran ini semakin membuka mata saya untuk mengenali lebih dalam setiap anggota keluarga. Semakin saya mengenali diri dan anggota keluarga lain semakin menstabilkan emosi saya. Menjadikan kepala saya awet dingin ketika menghadapi anak-anak, suami dan orang lain. Tantangan terberat saya adalah ketika saya sedang berada dalam tenggat waktu yang tidak banyak. Tenggat waktu yang sedikit tersebut membuat saya terlalu fokus untuk segera menyelesaikan setiap pekerjaan yang ada. Kadang melupakan kecepatan kerja setiap orang berbeda. Saya akan terus berusaha memperbaiki diri.

Menyiapkan Anak Mudik

Mudik kali ini luar biasa bawaannya. Kalau dulu sekoper cukup sekarang butuh tiga koper plus plus. hahaha. Bertambahnya anggota keluarga bertambah pula jumlah barang bawaannya. Anak-anak di persiapkan dari semalam sebelum keberangkatan. Memastikan mereka cukup makan, minum dan istirahat.  Memberi penjelasan tentang perjalanan esok hari, bagaimana teknisnya dan jam keberangkatan sangat diperlukan. Hal ini berhubungan dengan persiapan keberangkatan esok hari. Hari-hari yang biasanya anak-anak mandi jam 8 harus diubaah sesuai jadwal. Si kakak sudah menyepakati hal ini. Semoga esok hari mampu melaksanakan dengan baik.  Saat membuat kesepakatan saya pastikan dia benar-benar memahami. Maka saya lakukan klarifikasi, ketika persepsi kami telah selaras maka si kakak boleh istirahat. Semoga perjalanan nanti lancar, selamat sampai tujuan. #level1 #day16 #tantangan10hari #KomunikasiProduktif #KuliahBunsayIIP

Janji yang Tertunda

Hari ini Cia meminta permen loli. Karena rumah kakak jauh dari toko kelontong kami berencana pergi ke mini market terdekat. Namun karena beberapa hal kami belum jadi berangkat. Mulailah si kakak merajuk. "Aku sama adik udah mandi, Bunda. Ayo berangkat." "Lha, Bunda yang belum mandi, Kak. Lagipula udah panas, nih kalau jalan kaki. Emangnya nanti Kakak nggak haus? Kan, lagi puasa." "Nggak papa, Bun. Aku nggak haus, kok." Ternyata setelah saya mandi kebetulan ART minta ijin keluar, dan si adik masih tertidur. Maka kami menunda kembali rencana kami. "Ayo, Bun. Berangkat." "Lho, mama sama mbak lagi tidur, bibi juga masih keluar nanti nggak ada yang jagain rumahnya." "Ya, dikunci, dong." "Trus kuncinya yang bawa siapa? Kalau kita bawa bibi mau masuk nggak bisa, mama atau mbak juga nggak bisa keluar nanti." "Lha, mama emang mau ke mana?" "Ya, kan kali mau ke depan ke rumah budhe atau apa...

Cia Menahan Lapar dan Haus

Hari selasa kemarin Cia antusias menyambut kedatangan ayahnya pulang kerja. Pasalnya, ayahnya membawakan es krim untuknya. Dia menerimanya dengan berseri-seri. Setelah mengucapkan terima kasih dia meminta dibukakan kemasannya. Melihat ayahnya sedang beristirahat Cia berkomentar. "Ayah, cepet buka sana lho. Minum air dulu terus makan." Melihat ayahnya tidak segera beranjak dia menuju dapur dan kembali dengan segelas air putih. "Waah, terima kasih, ya, kak. Baik banget bawain air ayah," puji ayahnya. "Iyalah. Aku kan anak baik. Anak sholihah." Tapi, esoknya dia dia rewel sekali saat berpuasa. Mengeluh lapar, haus, beralasan sakit. "Katanya anak sholihah. Namanya berpuasa itu memang lapar dan haus. Harus ditahan, Kak. Semua yang berpuasa juga merasa lapar dan haus." Namun penjelasan ini masih belum cukup. Sebenarnya Cia bukan hanya ingin makan minum. Pertama dia kurang kegiatan karena kurangnya "mainan", kedua sepertinya ad...

Menyambut Kerabat dari Tanah Suci

Awal bulan romadhon kakak ipar berangkat menjalankan ibadah umroh. Kami mengantar sampai bandara. Hari Senin beliau tiba kembali di tanah air dengan kondisi sehat wal afiat. Sambil melepas lelah, beliau menceritakan berbagai pengalaman yang telah beliau rasakan selama di tanah suci. Begitu haru ketika mampu mencium Hajar Aswat, mampu mencium Ka'bah, serta mampu sholat di Hijir Ismail. Semua itu tak lepas dari perjuangan, doa dan ridho Alloh terhadap tamunya. Sebelum melaksanakan tawaf kakak dan suami berdoa memohon supaya diberi kelancaran dan kesempatan untuk dapat mendekat ke Ka'bah. Dengan tekad kuat dan doa yang tak putus Alloh mengabulkan doa beliau berdua. Setelah mampu madus Hijir Ismail, berdoa di bawah talang mas dan mencium Hajar Aswat, kakak saya sempat tergencet ke Ka'bah. Dengan banyaknya jumlah jama'ah di sekitar Ka'bah membuat kakak semakin terinjak-injak. Cerita ini membuat jantung dan hati bergetar. Beliau sudah hendak memasrahkan hidupnya, ...

Hari Merajuk Cia

Hari ini Cia sedikit rewel karena saya larang meminjam handphone. Dia memrotes dengan merajuk kepada saya. "Kenapa nggak boeh pinjeeeem?" Sambil suku kata terakhir dipanjangkan dan diberi tekanan. Kalau sudah begini emak harus siapkan mental untuk tidak terpancing. "Bunda masih pakai untuk menulis." Sambil menahan emosi. Karena nada yang saya gunakan datar saja, dia muai berulah. Adiknya diusilin, menyobek-sobek kertas dan disebarkan bagai konfeti. Sambil masih mengomel. "Pinjeeeem...." "Bunda masih pakai untuk menulis, Kak. Bunda belajar, bunda sekolah." "Bunda, kan udah bisaaaaa," nada semakin tinggi. "Sshhh, bilangnya yang baik. Bunda ada tugas yang harus dikerjakan. Nanti kalau sudah selesai kan boleh pinjam." "Lamaaaaa." "Tunggu, kak." "Bundaaaaa," sambil menahan teriak. "Kalau kakak nggak baik, Bunda nggak mau minjemin, deh." "Buuun...lamaaa...mau ...

Mengemas Barang

Hari Minggu, kami harus sudah meninggalkan rumah untuk menyambut kedatangan kakak ipar dari tanah suci. Kami harus mengepak pakaian dan beberapa titipan saudara di kampung untuk dipaketkan melalui bus malam. Semalam sebelumnya saya berusaha membereskan rumah sebisa mungkin sampai rapi. Hari Minggu paginya saya masih harus mencuci dan membereskan sisa sahur. Ditambah memasukkan pakaian-pakaian kami sekeluarga ke dalam tas-tas tersendiri. Saya meminta kerjasama suami untuk menyiapkan pakaiannya sendiri yang akan dibawa. Anak saya yang pertama saya minta melakukan hal yang sama. Namun waktu yang sangat sempit membuat emosi saya sangat tidak stabil. Saya jadi kurang produktif dalam berkomunikasi dengan keluarga. Saya mendelegasikan beberapa pekerjaan dengan terburu-buru dan tidak satu persatu. Hasilnya, suami harus bertanya dua kali untuk mengklarifikasi ketika saya minta untuk membuang sampah. Anak pertama saya tidak segera melaksakan tugasnya untuk merapikan mainan, mandi, dan bersia...