Skip to main content

Posts

Siasat Membahagiakan Diri

Mewujudkan kebahagiaan seorang ibu ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan, ya, Mak? Begitu banyak yang harus ibu kerjakan hingga waktu untuk diri sendiri kadang terlewat. Setelah pekan lalu belajar mengenal kebutuhan bahagia diri, sekarang saatnya mengidentifikasi cara-cara untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Saatnya emak memperbanyak jam terbang dan ilmu-ilmu penunjang kebahagiaannya. Hmmm, mari coba kita identifikasi satu per satu. Untuk memudahkan belajar emak melanjutkan peta konsep pekan lalu. Peta tersebut dapat di akses di link ini  bagan Pola Belajar . Setelah memetakan pola keterampilan yang dibutuhkan ternyata ada dua keterampilan yang penting dan mendesak untuk dikuasai. Keterampilan pertama adalah manajemen waktu. Jujur saya termasuk manajer waktu yang kurang baik. Kurangnya konsistensi dalam penerapan kandang waktu membuat beberapa tugas harus keteteran kadang sampai terbengkalai. Manajemen waktu ini juga berhubungan dengan keterampilan yang kedua, ya...

Happy Mom Happy Life

Seorang ibu dikenal dengan berbagai macam tugas yang harus dikerjakan. Dari bangun tidur hingga tidur lagi tak luput dari tugas negara yang harus diselesaikan. Tak jarang tugas tersebut harus ditunda karena kondisi fisik yang sudah tak kuasa. Kegiatan maraton ini sering membuat ibu lupa bahwa ia juga berhak bahagia. Jadi, bagaimanakah caranya supaya tugas ibu paripurna tapi tetap bahagia? Sekarang saatnya emak belajar menjadi ibu yang cekatan. Resep rahasianya emak harus bahagia. Duuuuh, mak gimana bisa bahagia jika tugas negara tak kunjung ada habisnya? Yuk, belajar. Sejujurnya emak pun sering pusing kepala gegara tugas yang tak kunjung habis. Meski sudah berusaha bangun paling pagi dan tidur paling akhir, emak masih kewalahan. Padahal, nih saat ini masih ada tenaga bantuan untuk menghandle beberapa pekerjaan (terutama yang tidak emak suka kerjakan. Hihihi). Tapi karena satu dan lain hal, agaknya bala bantuan ini akan dihentikan. Hiks. Saatnya emak menguatkan diri, segera beradaptas...

Internet untuk Kebaikan

Begitu masifnya internet digunakan saat ini memberikan kesempatan kepada kita untuk membuka dunia seluas-luasnya. Begitu pun untuk anak kita. Meski tidak jarang ada kesalahan dalam penggunaan internet yang ditemukam pada anak-anak, bukan berarti kita harus takut dalam menggunakannya. Sesungguhnya, mindset kitalah yang perlu diperbaiki dalam mengahadapi sebuah kemajuan. Karena sesungguhnya manusia akan mencari sesuatu yang sesuai dengan yang kita pikirkan. Jika dalam mindset kita internet adalah sarana untuk membantu kita, maka itulah yang akan kita temukan dan gunakan. Sebagai orang tua yang menjadi tauladan bagi anak-anak, tentunya sikap seperti ini akan diamati oleh anak-anak. Dengan begitu mereka akan belajar, mereka akan meniru sikap terhadap suatu kemajuan teknologi. Orang tua perlu membekali diri dalam setiap kemajuan yang terjadi sehingga kita mampu memberikan contoh dalam bersikap kepada anak-anak. Akan susah melarang anak-anak menggunakan internet karena begitu dinamisnya ...

I Got Her Attention Back, Yay!

Wuih sempet terkejut dua hari karena ditolak Cia. Huhuhu. Tapi hari ini saya mencoba kembali bercerita. Awalnya Cia berusaha menghentikan cerita saya tapi saya yakinkan untuk melanjutkan cerita, Cia dengan sabar mau mendengarkan. Berawal dari Cia yang salah alamat. Bukan karena saya memberi alamat palsu, hihihi, tapi karena miskomunikasi. Saya meminta tolong Cia mengantarkan beberapa barang bekas untuk disetor ke bank sampah kebetulan nama tetangga saya hampir sama. Ternyata Cia salah mengirim setoran saya, hanya beda satu huruf di nama masing-masing ibu tetangga ini sudah bisa membuat kesalahan besar. Hihihi. Berdasarkan ceritanya Cia bertemu anak tetangga bernama Nanda ketika di perjalanan mengantarkan setoran saya. Cia bertanya rumah Ibu Lita, yang seharusnya Ibu Rita. Jadilah saya dikejutkan oleh pesan singkat Ibu Lita yang kebingungan menerima setoran sampah tersebut. Hihihi. Lalu saya jelaskan kepada Cia bahwa dia harus memperhatikan instruksi, jika dia tidak mengerti dia b...

Penolakan Cia

Sudah dua hari ini Cia menolak saya untuk bercerita. Belum diketahui sampai sekarang apa motif penolakannya. Hehehe. Tetapi lepas maghrib ketika kami sedang menghadiri pengajian di rumah tetangga, Cia sedang berlakon bersama teman-temannya. Dia mengatur setiap peran dari masing-masing temannya dan dia mendapatkan peran utama. Rupanya saya perlu belajar kembali cara menuturkan cerita supaya membawanya bersama saya dalam sebuah imaji yang sama. Imajinasi Cia jelas lebih luas, lebih indah, dan lebih beragam daripada imaji saya. Di lain sisi sepertinya saya perlu belajar lebih keras lagi dengan kemampuan saya mendongeng. Ketika imajinasi saya sangat terbatas dan imajinasi anak-anak lebih berwarna, sepertinya saatnya saya perlu piknik belanja gagasan kembali. #Tantangan10Hari #Level10 #KuliahBunsayIIP #GrabYourImagination

Belajar Mengontrol Suara

Cia anak yang sangat ekspresif, jika terlalu senang atau sedang jengkel dia akan bersuara keras tidak peduli kapan dan di mana. Sore tadi, banyak alasannya ketika waktu mandi sudah tiba. Hingga menjelang maghrib Cia masih berlarian bermain bersama kucing sembil berteriak kencang hingga suara saya yang memanggilnya untuk mandi tidak dia dengar. Akhirnya dengan agak keras saya memanggilnya masuk ke dalam rumah. Sampai di dalam rumah saya berikan nasihat agar tidak terlalu kencang dalam berbicara. Saya menceritakan Spongebob yang kehilangan kemampuan tertawanya karena terlalu banyak tertawa, begitupun temannya Squidword yang kehilangan kemampuan tertawanya karena tertawa berlebihan. Yang ingin saya sampaikan adalah segala sesuatu yang berlebihan itu tidaklah baik. Apalagi jika bersuara terlalu kencang bisa jadi mengganggu tetangga sekitar rumah. Seperti Squidword yang terganggu dengan suara tawa Spongebob yang berlebihan. Cia menyatakan mengerti tapi masih belum menjadi habitnya berbi...

Review Cerita Kelinci dan Kura-Kura

Hari ini Cia lebih mudah diminta membereskan mainan. Tapi tetap saja ada waktu dimana dia memainkan mainan yang seharusnya dia bereskan. Saat saya mengingatkan untuk fokus Cia langsung menyahut: "Kaya, kura-kura, ya, Bun. Lari terus-menerus meski lambat jadi menang." Dengan agak terkejut saya mengiyakan kesimpulannya. Cia ingin seperti kura-kura yang tekun dan fokus. Lalu saya berikan waktu lagi baginya untuk membereskan mainannya. Setelah beberapa saat dia datang menemui saya dengan bangga berkata: "Lihat, Bunda. Aku sudah selesai. Aku jadi kura-kura." Dan memang benar, dia sudah selesai merapikan mainannya. Lantai telah bebas mainan. Mengambil hikmah dari sebuah cerita, menjadikan pelajaran bagi kehidupan sehari-hari. #Tantangan10Hari #Level10 #KuliahBunsayIIP #GrabYourImagination